Pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak hanya tentang pencapaian akademis, tetapi juga memainkan peran krusial dalam mengasah empati dan semangat gotong royong pada diri siswa. Di usia remaja, di mana interaksi sosial menjadi sangat penting, SMP menjadi lingkungan ideal untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan ini. Upaya mengasah empati dan gotong royong adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang peduli, kolaboratif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.
Kurikulum Merdeka secara eksplisit mengintegrasikan nilai gotong royong dan kepedulian sosial sebagai bagian dari Profil Pelajar Pancasila. Implementasinya terlihat dalam berbagai proyek dan kegiatan yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan merasakan penderitaan orang lain. Misalnya, melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), siswa diajak untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan atau lingkungan yang berdampak langsung pada masyarakat. SMPN 1 Jakarta, pada 10 September 2025, meluncurkan proyek “Peduli Sesama” yang melibatkan 150 siswa dalam penggalangan dana dan distribusi bantuan untuk korban bencana banjir di wilayah tetangga. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan organisasi, tetapi juga secara langsung mengasah empati mereka terhadap penderitaan orang lain.
Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka, atau bahkan klub-klub sosial di sekolah, menjadi wadah yang sangat efektif untuk mengasah empati dan gotong royong. Dalam PMR, siswa dilatih untuk memberikan pertolongan pertama, yang secara inheren membutuhkan empati terhadap orang yang terluka atau membutuhkan. Kegiatan bakti sosial, penggalangan dana, atau kunjungan ke panti asuhan, yang sering menjadi agenda rutin ekstrakurikuler, juga menumbuhkan rasa kepedulian dan semangat berbagi. Contohnya, pada hari Sabtu, 22 Juni 2025, 50 anggota PMR SMP Harapan Bangsa di Surabaya mengadakan kunjungan ke panti asuhan dan memberikan hiburan serta bantuan logistik, sebuah praktik nyata dari gotong royong. Ini adalah “Metode Efektif” untuk internalisasi nilai-nilai tersebut.
Guru-guru di SMP juga berperan penting sebagai fasilitator dan teladan. Mereka menciptakan suasana kelas yang inklusif, mendorong diskusi terbuka tentang isu-isu sosial, dan memberikan contoh bagaimana berinteraksi dengan rasa hormat dan kepedulian. Konflik antar siswa pun dijadikan sebagai momen pembelajaran untuk mengasah empati, di mana siswa diajak untuk memahami perspektif orang lain dan mencari solusi bersama. Dengan demikian, pendidikan di SMP tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademis, tetapi juga secara sistematis membentuk siswa menjadi pribadi yang memiliki empati tinggi, siap bergotong royong, dan menjadi agen perubahan positif di masyarakat.