Menanam Sayur di Ruang Angkasa? Simulasi Hidroponik SMPN 78 Jakarta Dilirik Peneliti

Eksplorasi luar angkasa bukan lagi sekadar domain milik badan antariksa raksasa seperti NASA atau SpaceX. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota Jakarta, sekelompok pelajar menengah pertama mulai memikirkan cara bagaimana manusia bisa bertahan hidup di luar Bumi. Melalui sebuah proyek sains yang ambisius, para siswa di SMPN 78 Jakarta mencoba menjawab tantangan logistik pangan bagi para astronaut di masa depan. Muncul sebuah pertanyaan mendasar: mungkinkah kita menanam sayur di ruang angkasa dengan sumber daya yang sangat terbatas? Pertanyaan inilah yang memicu mereka untuk melakukan sebuah simulasi hidroponik khusus yang kini justru menarik perhatian banyak ilmuwan dan akademisi.

Proyek ini bermula dari pembelajaran di kelas mengenai keterbatasan lahan di perkotaan, yang kemudian ditarik secara ekstrem ke konteks gravitasi rendah dan isolasi lingkungan luar angkasa. Para siswa SMPN 78 Jakarta membangun sebuah instalasi tertutup yang meniru kondisi lingkungan di stasiun luar angkasa, termasuk pengaturan spektrum cahaya LED tertentu yang menggantikan sinar matahari. Tujuan dari simulasi hidroponik ini adalah untuk melihat bagaimana tanaman seperti selada dan kale dapat tumbuh tanpa tanah, dengan efisiensi air yang mencapai 99 persen melalui sistem daur ulang uap air. Upaya menanam sayur di ruang angkasa versi siswa SMP ini ternyata menghasilkan data pertumbuhan yang sangat stabil dan di luar ekspektasi awal para guru pembimbing.

Keunikan dari riset ini terletak pada penggunaan sensor canggih yang memantau kadar nutrisi secara otomatis melalui kecerdasan buatan sederhana. Para siswa SMPN 78 Jakarta berhasil membuktikan bahwa dengan kontrol suhu dan spektrum cahaya yang tepat, tanaman dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional. Inilah alasan mengapa proyek simulasi hidroponik ini akhirnya dilirik peneliti dari beberapa universitas nasional dan lembaga riset pangan. Para pakar melihat bahwa protokol yang dikembangkan oleh siswa-siswa ini memiliki potensi untuk diaplikasikan dalam skala yang lebih luas, baik untuk misi antariksa maupun untuk pemukiman ekstrem di Bumi yang kekurangan air bersih dan tanah subur.

Selama proses eksperimen, para siswa juga mempelajari aspek psikologis dari tanaman. Mereka melakukan pengamatan apakah tanaman yang diberi perlakuan audio tertentu atau frekuensi getaran tertentu menunjukkan respons pertumbuhan yang berbeda, sebuah variabel yang sangat krusial dalam misi jangka panjang jika manusia ingin menanam sayur di ruang angkasa.