Masalah limbah di lingkungan pendidikan perkotaan sering kali dianggap sebagai isu rutin yang diselesaikan hanya dengan pembuangan akhir. Namun, SMPN 78 mencoba mengubah paradigma tersebut dengan mengadopsi prinsip Circular Economy atau ekonomi sirkular dalam manajemen lingkungannya. Alih-alih menggunakan model linier “ambil-pakai-buang”, sekolah ini mulai menerapkan sistem di mana setiap sumber daya yang masuk harus diputar kembali kegunaannya semaksimal mungkin. Langkah awal yang paling krusial dalam perjalanan ini adalah melakukan Audit Sampah secara berkala untuk memetakan volume dan jenis limbah yang dihasilkan oleh aktivitas warga sekolah setiap harinya.
Fokus utama dalam audit ini adalah material Plastik, yang secara historis menjadi penyumbang terbesar kerusakan ekosistem tanah dan air di sekitar sekolah. Melalui Audit Sampah, para siswa dilibatkan untuk memilah dan menimbang sampah plastik berdasarkan kategorinya, mulai dari botol PET hingga kemasan fleksibel yang sulit didaur ulang. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk melihat pola konsumsi di kantin dan area kelas. Inisiatif ini bukan sekadar tugas kebersihan, melainkan bagian dari visi besar mewujudkan sekolah Zero-Waste, di mana tidak ada lagi limbah plastik yang berakhir sia-sia di tempat pembuangan akhir (TPA).
Implementasi Circular Economy di SMPN 78 juga mengajarkan siswa tentang nilai ekonomi dari sebuah limbah. Setelah proses Audit Sampah selesai, material yang masih memiliki nilai guna diarahkan ke unit pengolahan atau bank sampah sekolah. Plastik yang terkumpul tidak lagi dilihat sebagai kotoran, melainkan sebagai bahan baku potensial untuk produk baru atau dikerjasamakan dengan industri daur ulang profesional. Dengan cara ini, sekolah berhasil menekan jumlah sampah yang keluar dari gerbang sekolah, sekaligus mendidik siswa mengenai pentingnya tanggung jawab atas produk yang mereka konsumsi.
Untuk mencapai target Zero-Waste, sekolah juga melakukan intervensi pada sisi hulu. Berdasarkan temuan dari audit tersebut, pihak sekolah memberlakukan kebijakan pembatasan penggunaan Plastik sekali pakai di area kantin. Siswa dan guru didorong untuk membawa wadah makan dan botol minum sendiri. Ini adalah contoh nyata bagaimana prinsip Circular Economy dapat mengubah perilaku manusia melalui kesadaran berbasis data. Tanpa adanya audit yang presisi, kebijakan lingkungan sering kali hanya menjadi slogan tanpa dampak yang terukur.